Skip to main content

follow us

Pembelajaran dari Tertipu Beli Masker Via Online

"Masker" dua suka kata mas dan ker he..he,,

Menjadi perhatian saat ini, karena kebutuhan kemudian menjadi langka, disaat langka ini sebagai umat manusia yang suka tolong menolong, membantu mencarikan masker untuk yang membutuhkan.

Tapi apa yang terjadi, apes niat hati membantu, malah kena tipu, sebuah cerita dari teman ni coba saya rangkum, maksud postingan ini adalah semoga menjadi pembelajaran kita bersama dan tidak terulang kembali.

Beli Masker dari Nomor Handphone baru Dikenal


Teman sebut saja budi (nama samaran), biar enak.

Budi ini dimintain tolong sama istrinya, beli masker untuk ditempat kerjanya, sedang membutuhkan masker untuk antisipasi penyebaran corona.

Teman saya ini masih begitu awam dunia transaksi online, awal cerita, mulai beraksi begitu dimintain tolong carikan masker, budi menghubungi teman-temannya, dan hasilnya ada uang tak ada barang, alias stok kosong semua.

Tiba-tiba notif sms berdering tak tahu dari mana dapat nomor si budi, ada orang menawarkan masker, si budi karena memang sedang butuh, tak panjang lebar menyambutnya dengan senang dan langsung order, percakapan berlangsung si budi mengikuti permintaan si penjual masker untuk order harus DP sebesar 1 juta rupiah, setelah  itu dijanjikan 2 hari barang dikirim, tak panjang lebar, karena sulit mendapatkan masker.

Masuk dua hari penjual mengabari barang sudah siap kirim, akan tetapi  minta dilunasi terlebih dahulu.

Budi setelah mendengar nasehat teman, mulai curiga dan merasa penjual kurang meyakinkan, lalu menghubungi  penjual dan meminta difotokan KTP dan minta video call via whatsapp.

Setelah mendapatkan saran dari temannya agar data penjual antara nama rekening bank dan nama harus sama, ternyata nomor rekeningnya berbeda, budi mulai mikir, "aduh penipuan ini kayanya"

Budi terus menelaah benar tidak  ini penjual masker, tak diduga sibudi ditelpon orang mengaku berasal dari bea cukai, mengancam kalau transaksi masker ini melanggar dan akan ditindak pidana, kemudian meminta sejumlah uang.

Budi tambah bingung lagi, ada apa ini, masker tidak jelas belum diterima, sudah ada ancaman seperti ini, meminta uang untuk mengamankan kasus pidana jual beli masker sebagai penadah, kebetulan budi ini masih punya saudara yang menjadi aparat kepolisian.

Lha yang menjadi bukti penipuannya yang mana ?

Budi meminta foto ktp sesuai dengan nomor rekening banknya, tapi tidak diberi.

Budi menghubungi saudara yang aparat itu, berkonsultasi setelah mendengarkan ceritanya disimpulkan hal tersebut penipuan nanti akan dilacak. katanya

Budi pun menyadari kalau dirinya memang kurang wawasan banyaknya modus penipuan sehingga sampai tertipu. dan mengikhlaskan uang satu jutanya yang untuk DP dan tidak mau memenuhi kekurangan maskernya, karena penjual sudah jelas menipu.

Data-data percakapan diberikan kepada temannya yang dari aparat kepolisian, termasuk foto pelaku, si budi sempat menscrenshoot saat video call.


Pembelajaran Kisah Cerita


1. Berhati-hati harus cermat jika bertransaksi online disaat masker sedang langka, sebaiknya order ditempat yang sudah kenal atau transaksi langsung, kalaupun online usahakan COD, barang diterima baru bayar.

2. Jangan transfer dulu, cari informasi penjual sejelas-jelasnya, sekarang ini toko online bisa ditelusuri riwayatnya, jika ada history berupa bukti-bukti transaksi, testimoni para pembelinya bisa  direkomendasikan.

Yang dilakukan teman saya ini pengatahuan baru bagi saya, yaitu menscreenshot saat video call dengan penjual. ini bisa menjadi bukti untuk melacaknya.

3. Jika ragu dengan si penjual, gunakan rekening bersama atau orang ketiga yang dapat dipercaya, jadi sama-sama enak, kalau keduanya sudah akad dan masing-masing kedua belah pihak pembeli menerima barang, penjual baru mendapatkan uangnya.

Baca juga : Waspada di Medsos ada Modus

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar