Usaha yang diwariskan ke anak

Punya langganan siomay menjadi tempat nongkrong saat istirahat yang jual sekitar usia 58 tahun, karena terbiasa makan siomay dilokasi jualan jadi akrab dengan penjualnya, suatu waktu yang jualan berganti orang, ternyata itu anaknya, karena sudah sudah cocok dengan rasa siomaynya setiap istirahat tetap saja saya jajan siomay.

Sempat lama tidak makan siomay gegara penjualnya ganti, rasanya ada yang kurang, kurang santai mungkin karena belum kenal yang jual tapi lama tak makan, ketagihan juga makan siomay.

Tak lama makan siomay, datang ketemu sesama pedagang disitu, meski usahanya diwariskan ke anaknya, komentar dari tetangga sesama pedagang, tetap berbeda jika dibandingkan dengan bapaknya dari segi melayani penjualnya, biasanya kalau yang bapaknya cepat habis, dan lebih luwes sama pelanggannya.

Lokasi yang strategis kemudian pelanggan yang sudah banyak, membuat seorang bapak mewariskan kepada anaknya, ini menjadi pesan pembelajaran, usaha yang bisa diwariskan, akan tetapi ada beberapa yang menjadi catatan yaitu, bagaimana seni mengelola anak itu sendiri, karena tidak mulai dari nol, seringkali anak tidak memahami bagaimana mengelola keberlangsungan usahanya.

Bisa jadi, usahanya berjalan tetap langgeng karena rasa siomay dan tempatnya yang sudah disukai pelanggannya, bagi si penjual perlu terus belajar bagaimana mengembangkan pelayanan yang baik, minimalnya sama seperti bapaknya, maksimalnya lebih baik lagi sehingga jualannya tambah maju.

Setelah usaha gerobak siomaynya jalan, bapaknya jualan yang sama jual siomay, hanya tempatnya yang berbeda.

Dari sini terdapat pembelajaran, usaha siomay saja bisa diwariskan kepada anaknya, seorang bapak mengajari membuatkan ibarat kail pancing untuk mendapatkan ikan, dikasih alatnya lalu berusaha sendiri.

Bagaimana dengan kita misalnya saja seorang pegawai, yang diwariskan apa, jika ada harta benda, yang didapatkan, apakah sang anak bisa mengelolanya, apakah akan habis begitu saja, itu jika dibandingkan dengan seorang pengusaha, sebagai orang tua bisa menyekolahkan lebih tinggi, lalu berharap jadi pegawai, diarahkan jadi pengusaha bagaimana bisa orang tuanya tidak berpengalaman bidang itu, sepertinya rantai saja berputar yang pengusaha melahirkan pengusaha yang pegawai melahirkan pegawai.

Yang dilihat mata ini tidak hanya penjual siomay, ditempat lain langganan saya juga demikian penjual cilok usia kisaran sama, mewariskan usahanya ke anaknya setelah usaha ciloknya jalan memilik pelanggan yang cukup.

Sepertinya saya sedang diingatkan untuk berwirausaha.

Inspirasi dari mata memandang dan diulas saat ini adalah usaha yang diwariskan ke anak, rangkaian proses masa depan yang direncanakan dipersiapkan.


Terima kasih sudah berkunjung ke blog nulislagi.com, baca juga artikel postingan yang sedang diunggulkan, baca pada Peluang Usaha Online yang cocok untuk Blogger. jika bermanfaat dapatkan postingan terbaru blog ini dengan subscribe (ada diatas halaman ini), masukan email, get email notifications dan selanjutnya cek email verifikasi dan oke selanjutnya anda akan mendapatkan update postingan terbaru melalui email anda.



Comments

Popular posts from this blog

Daftar Catatan Barang Lengkap Warung Sembako

Contoh Peraturan Tata Tertib Karyawan

7 Alasan Kenapa Lebih Memilih Eskul PMR (Palang Merah Remaja)

Contoh Kalimat Promosi Ekskul PMR

6 Nama Dokter Kandungan di Pemalang dan Jadwal Prakteknya